Musala Pertama di Surabaya

,
  • Dulunya didirikan di tengah hutan. Sekarang menjadi bagian dari kepadatan Surabaya.
Musala di Makam Mbah Karimah merupakan salah satu tempat tujuan umat Islam di Surabaya dan sekitarnya saat bulan Ramadan. Musala ini dipercaya adalah musala pertama yang dibangun Sunan Ampel, penyebar Islam di Surabaya dan sekitarnya.

Letaknya di kawasan Kembang Kuning, Surabaya. Menuju lokasi ini, bisa diawali dari Masjid Rahmat atau dikenal dengan sebutan Masjid Kembang Kuning di Jalan Chairil Anwar 27, Surabaya. Kemudian, berjalan ke barat menyusuri perkampungan padat yang agak mendaki. Sekitar 100 meter kemudian terlihat gapura bertulis 'Makam Mbah Karimah'.


Meski Surabaya berhawa panas, suasana di sekitar makam terasa nyaman karena berada di dataran tinggi dan dikitari pepohonan. Halamannya tidak begitu luas, tapi terasa sejuk dengan dua pohon asam seakan sebagai pintu gerbang.

Ada dua bangunan, musala dan cungkup dua makam. Makam pertama milik Mbah Karimah yang terdapat tulisan wafat pada tahun 1377. Di sebelahnya, makam Sholeh, salah satu murid setianya.

"Ini makam Mbah Karimah dan yang itu Mbah Sholeh, murid atau cantriknya. Mbah Karimah itu orang yang berjasa di kawasan ini," kata juru kunci makam, bernama Suripto (62).

Musala ini dipercaya Suripto adalah musala pertama yang berdiri di tanah Jawa, buah karya besar tangan dingin Rahmatullah alias Raden Rahmad yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel. Namun klaim ini tentu patut dipertanyakan karena terdapat berbagai masjid atau tempat ibadah muslim yang berumur jauh lebih tua daripada ini.

Namun musala ini jelas yang pertama berdiri di Surabaya mengingat kisahnya bagian dari perjalanan hidup Sunan Ampel (1401-1481), penyebar Islam di Surabaya dan sekitarnya. Kisahnya, awal abad 15, Rahmatullah mendirikan tempat ibadah yang juga wujud ucapan terimakasihnya kepada Wiroseroyo pemeluk Hindu dari Majapahit yang kemudian masuk Islam.

Pak Wiro, pengembara dari Majapahit saat itu tengah berjalan bersama putrinya Karimah. Versi lain menyebut Pak Wiro sebelumnya telah lebih dulu menetap di hutan itu setelah lari dari Majapahit. Di hutan Kembang Kuning itu, pertemuan terjadi antara bekas petinggi dari Majapahit dengan pemuda bernama Rahmat.

"Singkat cerita, melihat kekhusukannya, Wiro dan anaknya memutuskan untuk mengikuti pemuda tersebut dan memeluk keyakinan yang diikuti Rahmatullah," kata Suripto.

Seiring berjalannya waktu, Wiro kemudian menjadi mertua Rahmatullah. Setelah mempersunting Karimah, Rahmatullah pamit meninggalkan hutan untuk melanjutkan dakwah. Sebelum ditinggalkan, di hutan tersebut telah berdiri musala kecil dari bilik. Kemudian, ia dan istrinya berjalan ke arah utara dan akhirnya menetap dan meninggal di kawasan Ampel, Surabaya Utara.

Setelah ditinggal Rahmatullah, Wiro hidup sendiri. Melanjutkan ajaran menantunya hingga kemudian lokasi itu ramai didatangi banyak orang dari berbagai penjuru negeri. Mereka ingin belajar bersama Wiro dan menjadi orang terkenal setelah kembali ke daerahnya. Wiro lambat laun dikenal sebagai Mbah Karimah.

Setiap Ramadan, tempat ini tidak pernah sepi didatangi peziarah. Mulai sekadar salat, mengaji kemudian istirahat bahkan bermalam setelah sebelumnya melakukan ziarah. Tak jarang mereka datang kembali membawa nasi tumpeng untuk selamatan.

"Saya sering diminta membaca do'a. Katanya, do'a atau keinginannya terijabah," kata Suripto.

Saat VIVAnews datang, sejumlah orang sedang berdoa dan mengaji di tempat ini. "Di sini enak, tempatnya sepi sejuk dan tenang. Kalau Allah menghendaki, keinginan kita akan terkabul setelah bermunajad," kata Muhajir, salah satu peziarah, saat ditemui VIVAnews di awal Ramadan 1431 Hijriyah ini.

Muhajir percaya, doanya terkabul ada buah asem jatuh tepat di depannya. "Iya, itu yang pernah saya alami," kata lelaki asal Sidoarjo itu.

Tiga bulan silam, Muhajir mengaku terbebas dari kesulitan. Sebelumnya, ia mengaku tertipu, kiriman mebelnya ke luar Jawa tidak terbayar oleh pemesannya. Namun, setelah bermunajad di tempat itu semua berbalik. "Tapi saya tidak mau syirik, semua ini karena Allah."
Oleh : Tudji Martudji | Surabaya

0 komentar:

Posting Komentar